Buya Dr. H. Mafri Amir, B.A., M.A. (1 Maret 1958 – 27 Desember 2021) adalah seorang akademisi, wartawan senior, dan tokoh organisasi Islam asal Sumatera Barat. Ia dikenal luas sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Barat, dosen di sejumlah perguruan tinggi Islam negeri, serta tokoh penting dalam perjalanan organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI).
Selain aktif di dunia akademik dan jurnalistik, Mafri Amir juga pernah mengabdi di lingkungan pemerintahan sebagai tenaga ahli pada staf Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla pada periode 2004–2009 serta menjadi asisten staf khusus Wakil Presiden pada periode 2014–2019.
Ia wafat pada 27 Desember 2021 di rumah sakit di wilayah Tangerang Selatan.
Latar Belakang dan Karier Akademik
Mafri Amir lahir pada 1 Maret 1958 di Jorong Kasik–Padang Balimbing, Nagari Koto Sani, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, sebuah daerah di tepian Danau Singkarak. Ia berasal dari suku Caniago–Panyalai dan merupakan putra Amiruddin dan Djauna.
Ia menikah dengan Roslaini, yang berasal dari suku Koto dari nagari yang sama, Koto Sani. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu Ahmad Zaki, Rifa Wahyuni, dan Shofi Adriya.
Mafri Amir merupakan alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Darussalam Sumani Solok (1972–1976). Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia sempat belajar di Pendidikan Guru Agama (PGA) Muhammadiyah Solok (1976–1977) lalu kemudian memutuskan kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang (kini UIN Imam Bonjol Padang) pada Fakultas Syariah (1978–1986) dan meraih gelar Bacheloreart (B.A.) dengan judul skripsi "Kode Etik Jurnalistik Menurut Al-Quran dan Al-Hadits". Pada masa mahasiswa, ia aktif dalam kegiatan intelektual, organisasi, serta dunia pers kampus.
Kemudian, ia melanjutkan studi Magister Artium (M.A.) di Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang (1994–1997) dengan judul tesis "Etika Komunikasi Massa: Studi Analisis dengan Metode Tafsir Tematik". Pada September 1999 ia melanjutkan pendidikan doktoral dalam bidang keislaman dan komunikasi organisasi di Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan menyelesaikannya pada 30 Desember 2004 dengan disertasi berjudul "Reformasi Islam Dunia Melayu-Indonesia: Studi Pemikiran, Gerakan, dan Pengaruh Syaikh Muhammad Thâhir Jalâluddîn ".
Dalam dunia akademik, ia pernah mengabdi sebagai dosen di IAIN Imam Bonjol Padang (kini UIN Imam Bonjol Padang) serta di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bidang yang digelutinya terutama terkait dakwah, komunikasi, dan kajian organisasi Islam.
Sebagai akademisi, Mafri Amir dikenal produktif menulis buku, artikel ilmiah, serta makalah yang membahas komunikasi organisasi, pemikiran Islam, dan dinamika organisasi keislaman di Indonesia. Diantara karyanya yang sering dirujuk adalah buku Strategi Komunikasi Organisasi serta buku Etika Komunikasi Massa menurut Pandangan Islam.
Karier Jurnalistik
Di luar dunia akademik, Mafri Amir merupakan wartawan senior yang aktif dalam lingkungan pers Sumatera Barat. Ia pernah bekerja di beberapa media, di antaranya Harian Semangat, Haluan, dan Mimbar Minang.
Sebagai jurnalis, ia dikenal memiliki kemampuan analisis yang kuat serta jaringan pergaulan yang luas di kalangan akademisi, tokoh masyarakat, dan pejabat pemerintahan. Karakter pribadinya yang humoris dan komunikatif menjadikannya sosok yang disegani sekaligus dekat dengan berbagai kalangan.
Peran di Lingkungan Pemerintahan
Selain aktif di dunia akademik dan organisasi Islam, Dr. H. Mafri Amir, M.Ag juga memiliki pengalaman panjang dalam pengabdian di lingkungan pemerintahan nasional, khususnya di kantor Wakil Presiden Republik Indonesia pada masa kepemimpinan Jusuf Kalla.
Ia mengabdi di Kantor Wakil Presiden dalam dua periode, yaitu 2004–2009 dan 2014–2019. Dalam masa tersebut, Mafri Amir menjadi bagian dari tim tenaga ahli dan staf khusus yang membantu berbagai agenda strategis Wakil Presiden.
Salah satu posisi yang pernah diembannya adalah sebagai Asisten Staf Khusus Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, M.Phil., M.A., C.B.E., seorang cendekiawan Muslim yang pada waktu itu bertugas menangani bidang reformasi birokrasi di lingkungan Wakil Presiden. Dalam posisi ini, Mafri Amir turut membantu penyusunan bahan kajian serta analisis kebijakan yang berkaitan dengan reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan.
Sebelumnya, ia juga pernah bertugas sebagai Asisten Staf Khusus bidang keagamaan di Kantor Wakil Presiden. Dalam peran tersebut, ia banyak berinteraksi dengan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam dan tokoh-tokoh agama di Indonesia.
Salah satu tugas penting yang pernah dipimpinnya adalah mengelola dan mendistribusikan bantuan sosial serta paket Lebaran yang disediakan oleh keluarga Jusuf Kalla bagi berbagai organisasi Islam di seluruh Indonesia. Kegiatan ini melibatkan koordinasi yang luas dan pengelolaan distribusi bantuan dalam jumlah besar kepada banyak lembaga dan komunitas keagamaan.
Selain itu, Mafri Amir juga terlibat dalam penyusunan bahan kajian kebijakan untuk Wakil Presiden, koordinasi kegiatan sosial dan keagamaan dengan organisasi masyarakat, pengelolaan agenda dan komunikasi perjalanan dinas Wakil Presiden, dan menjembatani hubungan antara pemerintah dengan berbagai organisasi Islam.
Melalui jaringan dan kedekatannya dengan berbagai kalangan, ia sering berperan sebagai penghubung komunikasi antara pemerintah dan organisasi Islam, termasuk Persatuan Tarbiyah Islamiyah.
Salah satu contoh kontribusinya adalah keterlibatannya dalam komunikasi dan koordinasi yang memungkinkan Wakil Presiden Jusuf Kalla menghadiri dan membuka Rakernas ke-I Tarbiyah–Perti di Bandar Lampung tahun 2018. Kehadiran Wakil Presiden pada kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi penguatan hubungan antara pemerintah dan keluarga besar Persatuan Tarbiyah Islamiyah.
Melalui pengabdiannya di lingkungan Wakil Presiden, Mafri Amir dikenal sebagai figur yang mampu memadukan kapasitas akademik, pengalaman organisasi, serta jaringan sosial yang luas dalam mendukung komunikasi kebijakan publik dan penguatan hubungan antara negara dan masyarakat.
Peran dalam Persatuan Tarbiyah Islamiyah
Dalam lingkungan Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Mafri Amir dikenal sebagai salah satu tokoh intelektual yang memberikan kontribusi besar dalam penguatan organisasi, baik di tingkat pemuda, daerah, maupun nasional.
1. Aktivisme Pemuda Tarbiyah
Keterlibatan Mafri Amir dalam Persatuan Tarbiyah Islamiyah telah dimulai sejak masa mudanya. Ketika menempuh studi magister di Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang, ia aktif sebagai penggerak organisasi Pemuda Tarbiyah. Dedikasinya dalam membina kader muda mengantarkannya dipercaya sebagai Ketua Ikatan Pemuda Tarbiyah Islamiyah (IPTI) Provinsi Sumatera Barat periode 1995–2000.
Selain aktif di lingkungan Tarbiyah, ia juga terlibat dalam berbagai organisasi kepemudaan dan dakwah, antara lain Wakil Sekretaris Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Sumatera Barat (1991–1994), Ketua Lembaga Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang (1994–1999), dan Ketua Pengurus Baitul Mal Pegambiran Padang (1995–1999).
Aktivitas tersebut memperluas jaringan dan pengalaman organisasinya serta memperkuat perannya sebagai kader muda Tarbiyah yang aktif dalam kegiatan sosial, dakwah, dan kepemudaan.
2. Peran di Tingkat Nasional
Seiring perjalanan waktu, konsistensi Mafri Amir dalam memperkuat organisasi Tarbiyah Islamiyah terus berlanjut hingga tingkat nasional. Ketika melanjutkan studi doktoral di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada periode 1999–2004, keterlibatannya dalam organisasi semakin intens di tingkat pimpinan pusat.
Menurut Duski Samad, Pengabdian yang terbaik Mafri Amir di jajaran kepengurusan pusat Tarbiyah sebelum islah adalah ketika ia dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Tarbiyah, mendampingi Ketua Umum Azwar Anas.
Dalam perkembangan berikutnya, ia terus aktif dalam kepengurusan nasional Persatuan Tarbiyah Islamiyah, dan terakhir menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Tarbiyah–Perti periode 2016–2021.
Selain itu, Mafri Amir juga pernah menjadi pengurus pada beberapa departemen strategis yang menangani pengembangan organisasi dan hubungan eksternal. Ia juga terlibat sebagai pengurus pusat Majelis Ulama Indonesia sejak tahun 2006, khususnya dalam bidang kerukunan.
Melalui berbagai posisi tersebut, Mafri Amir turut memperkuat koordinasi dan konsolidasi organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah di berbagai daerah di Indonesia.
3. Peran dalam Islah Tarbiyah–Perti
Salah satu kontribusi paling penting Mafri Amir adalah keterlibatannya dalam proses islah (rekonsiliasi) antara dua organisasi yang sempat berkembang secara terpisah, yaitu Tarbiyah dan Perti. Ia termasuk tokoh yang aktif mendorong dialog dan rekonsiliasi demi menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Tarbiyah Islamiyah.
Upaya rekonsiliasi tersebut diawali dengan berbagai dialog dan komunikasi antara tokoh-tokoh organisasi di tingkat daerah dan nasional. Salah satu momentum penting terjadi dalam Deklarasi Islah Tarbiyah–Perti Sumatera Barat pada 5 Mei 2016, yang menjadi langkah awal menuju rekonsiliasi nasional.
Dalam proses tersebut, Mafri Amir yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua PD Tarbiyah Sumatera Barat memainkan peran penting dalam komunikasi dan lobi organisasi. Pandangan serta pendekatan yang ia lakukan dalam menyelesaikan dinamika Musda Islah di Sumatera Barat turut berkontribusi pada tercapainya kesepakatan yang kemudian menetapkan Buya Boy Lestari Datuk Palindih (Ketua Pemuda Tarbiyah Sumbar 2000–2005) sebagai Ketua PD Tarbiyah–Perti Sumatera Barat pertama pasca islah.
Proses rekonsiliasi tersebut mencapai puncaknya pada Munas dan Muktamar Islah Tarbiyah–Perti 2016 yang berlangsung pada 26–27 Oktober 2016 di Jakarta, di mana Mafri Amir turut terlibat sebagai panitia penyelenggara. Deklarasi islah tersebut disaksikan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.
Tidak berhenti pada momentum islah nasional, Mafri Amir juga terus berperan dalam memperkuat proses rekonsiliasi di internal organisasi. Salah satu kontribusi terakhirnya adalah menjadi inisiator penyatuan Pemuda Tarbiyah—IPTI dan Pemuda Perti—PI serta penyatuan Mahasiswa Tarbiyah—IMTI dan Mahasiswa Perti—KMI, yang berhasil diwujudkan dalam forum Rakernas ke-II Tarbiyah–Perti pada 19–20 Juni 2021.
Melalui peran tersebut, Mafri Amir memberikan kontribusi penting dalam memperkuat persatuan organisasi serta menjaga kesinambungan fikrah, amaliah, dan harakah Persatuan Tarbiyah Islamiyah di Indonesia.
4. Pemikiran Organisasi
Sebagai akademisi, Mafri Amir juga berkontribusi dalam memperkaya literatur organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Ia menulis berbagai makalah dan artikel yang membahas sejarah, pemikiran politik, serta strategi komunikasi organisasi PERTI.
Salah satu karya penting Mafri Amir adalah buku Sejarah Perjuangan Persatuan Tarbiyah Islamiyah di Pentas Nasional. Buku ini menjadi salah satu referensi penting dalam memahami perjalanan organisasi PERTI dalam konteks sejarah sosial dan politik Indonesia.
Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan pentingnya menjaga khittah pendidikan dan dakwah sebagaimana diwariskan oleh pendiri PERTI, Maulana Syekh Sulaiman Arrasuli, sambil tetap membuka ruang modernisasi organisasi.
Sang Inisiator Penyatuan KMI – IMTI
Mafri Amir dikenal memiliki kedekatan yang kuat dengan generasi muda di lingkungan Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Ia merupakan salah satu tokoh yang mendorong konsolidasi organisasi mahasiswa Tarbiyah–Perti sebagai bagian dari upaya memperkuat kaderisasi intelektual di kalangan generasi muda Persatuan Tarbiyah Islamiyah.
Ia menjadi inisiator Deklarasi Penyatuan Ikatan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah (IMTI) dan Kesatuan Mahasiswa Islam (KMI) sebagai organisasi serumpun Tarbiyah–Perti di tingkat mahasiswa. Deklarasi tersebut dilaksanakan dalam forum Rakernas Tarbiyah–Perti di Jakarta pada 20 Juni 2021, yang menjadi langkah awal menuju konsolidasi gerakan mahasiswa Tarbiyah–Perti secara nasional.
Selalu Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Tarbiyah-Perti, Mafri Amir dalam orasinya menjelaskan bahwa IPTI-PI dan IMTI-KMI bukan islah namun bersatu karena memang tidak pernah berpisah namun hanya berjalan sendiri-sendiri akibat buntut perceraian ayahanda-ayahanda mereka.
"Alhamdulillah setelah pada tahun 2016 ayahanda-ayahanda mereka yaitu PB Tarbiyah dan DPP Perti islah serta setelah melalui beberapa upaya komunikasi maka mereka bersepakat bersatu dan akan menindaklanjutinya deklarasi penyatuan ini dalam tempo sesingkat-singkatnya." ujarnya.
"Selain itu, kami juga memperjuangkan agar turut diprogramkan pembentukan OPI (Organisasi Pelajar Islam) sebagai organisasi serumpun Tarbiyah-Perti di tingkat pelajar di seluruh Indonesia sebagaimana telah dibentuk di Aceh. Semoga hal ini bisa segera dibahas dan diatur oleh PP Tarbiyah-Perti" ungkapnya.
Setelah deklarasi tersebut, Mafri Amir juga melakukan pembinaan awal serta memberikan motivasi kepada Caretaker Pimpinan Pusat organisasi mahasiswa Persatuan Tarbiyah Islamiyah, yang bertugas mempersiapkan pembentukan wadah organisasi mahasiswa baru yang lebih solid dan representatif.
Gagasan dan pembinaan tersebut kemudian berlanjut setelah wafatnya Mafri Amir, ketika tim Caretaker yang disebut Tim Sembilan tersebut berhasil mendirikan organisasi Kesatuan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah (KMTI) sebagai wadah persatuan mahasiswa Tarbiyah di tingkat nasional.
Semasa hidupnya, melalui ceramah, diskusi, serta pembinaan kader, Mafri Amir secara konsisten mendorong mahasiswa alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) dan generasi muda Persatuan Tarbiyah Islamiyah lainnya agar tetap aktif dalam pengembangan intelektual, dakwah, serta pengabdian kepada masyarakat dan negara.
Warisan pemikiran dan pengabdiannya menjadikan Mafri Amir dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah modern Persatuan Tarbiyah Islamiyah, terutama dalam upaya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan, memperkuat organisasi, dan membina generasi muda PERTI.

0 Komentar