Oleh: Habiburrahman, S.Ag., M.A. (Sekjend Pengurus Besar Kesatuan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah—KMTI)
Tepat pada 5 Mei 2026, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) menapaki usia 98 tahun. Menjelang satu abad pengabdiannya, organisasi yang didirikan oleh ulama kharismatik Syekh Sulaiman ar-Rasuli (Inyiak Canduang) ini berada di titik krusial. Bukan sekadar merayakan romantisme sejarah, momentum ini seyogianya menjadi ajang refleksi mendalam untuk mengukuhkan peran PERTI sebagai salah satu pilar penting dalam pembangunan bangsa.
PERTI, yang lahir dari rahim Sumatera Barat, memiliki akar sejarah yang kuat dalam pendidikan Islam tradisional melalui Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI). Dengan ribuan MTI dan jutaan jamaah yang tersebar, PERTI telah menjadi benteng pelestarian nilai-nilai keislaman moderat berbasis kitab kuning. Namun, di tengah dinamika zaman yang terus bergerak, PERTI dihadapkan pada tantangan untuk bertransformasi agar relevan dan adaptif terhadap perubahan.
Refleksi Internal: Menuju Tata Kelola Modern dan Jangkauan Nasional
Evaluasi internal menunjukkan bahwa PERTI perlu mengakselerasi gerakannya. Jika dibandingkan dengan organisasi keagamaan lain yang lebih dahulu menasional, langkah PERTI dalam beberapa dekade terakhir terasa lebih terukur dan hati-hati. Kebanggaan akan jumlah jamaah dan MTI yang besar perlu diimbangi dengan tata kelola organisasi yang lebih modern dan terukur. Dua isu utama yang menjadi perhatian adalah konsistensi gerakan dan sentralisasi geografis.
Perpecahan internal yang sempat terjadi selama puluhan tahun telah berhasil diselesaikan melalui Muktamar Islah pada tahun 2016, yang kemudian diperkuat pada Muktamar Bersama 2022. Proses islah ini menjadi fondasi penting untuk menyatukan kembali energi dan fokus organisasi. Namun, masih ada pekerjaan rumah untuk memperluas jangkauan PERTI agar tidak lagi terlalu terpusat di Sumatera. Narasi moderat dan berbasis kitab kuning yang diusung PERTI memiliki potensi besar untuk bergaung lebih luas di seluruh penjuru Indonesia, termasuk di pusat gravitasi politik dan populasi nasional seperti Pulau Jawa dan wilayah timur.
Manajemen organisasi juga memerlukan pembenahan strategis. Program kerja yang sering kali bersifat seremonial perlu ditingkatkan dengan indikator kinerja utama (KPI) yang jelas dan terukur. PERTI membutuhkan peta jalan (roadmap) yang terintegrasi untuk memodernisasi MTI, membangun fasilitas kesehatan, atau memperkuat kemandirian ekonomi umat melalui pemanfaatan teknologi digital. Tanpa basis data anggota yang akurat dan transparansi aset yang diaudit secara profesional, PERTI akan kesulitan dalam membangun posisi tawar yang kuat di tingkat nasional. Gerakan organisasi harus didasarkan pada data dan visi strategis, bukan semata-mata instruksi lisan atau kedekatan personal.
Visi Satu Abad: Pilar Ketiga Peradaban Bangsa
Dua tahun menuju usia satu abad adalah waktu yang singkat namun krusial untuk melakukan lompatan besar. Ada tiga agenda strategis yang harus segera diwujudkan:
- Transformasi Pendidikan (MTI): Melakukan standardisasi mutu MTI secara nasional tanpa menghilangkan jati diri tradisionalnya. Visi jangka panjang adalah mendirikan Universitas Tarbiyah Islamiyah yang kompetitif secara global, sebagaimana telah dimulai dengan peletakan batu pertama pembangunan Universitas Persatuan Tarbiyah Islamiyah (UNPERTI) di Padang pada September 2023 dan Universitas Internasional Perti (UIP) di Pekanbaru.
- Nasionalisasi Kader dan Gerakan: Kesatuan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah (KMTI) dan organisasi serumpun lainnya harus menjadi motor penggerak untuk melakukan ekspansi kepengurusan dan dakwah ke luar Sumatera secara masif. PERTI harus menjadi milik seluruh Indonesia, bukan hanya milik satu etnis atau wilayah.
- Modernisasi Tata Kelola: Mengadopsi teknologi dalam tata kelola organisasi. Digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan sebuah keharusan untuk memastikan setiap langkah PERTI terukur, akuntabel, dan efisien.
Penutup
Milad ke-98 ini harus menjadi momentum untuk melakukan akselerasi kelembagaan. Kita memiliki warisan sejarah yang agung dari Inyiak Canduang dan para pendiri lainnya. Sudah saatnya PERTI berhenti menjadi pengikut arus dan mulai menciptakan arusnya sendiri di kancah nasional. Jika langkah-langkah strategis ini tidak segera diimplementasikan secara terukur, kita tidak sedang merayakan kelahiran, melainkan berisiko meratapi perlambatan yang dapat mengikis relevansi di masa depan.
Selamat Milad ke-98. Mari bangun, mari bergerak, mari berbenah. Tarbiyah bukan sekadar nama; ia adalah mandat perjuangan yang harus terus diaktualisasikan.

0 Komentar