
Sejarah Kesatuan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah
Pendahuluan
Kesatuan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah (KMTI) (bahasa Arab: اتحاد الطلاب التربية الإسلامية Ittiḥād ath-Thullāb at-Tarbiyah al-Islāmīyah) adalah organisasi serumpun Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) di tingkat mahasiswa. KMTI didirikan di Jakarta pada 24 Oktober 2022 M, bertepatan dengan 28 Rabiul Awal 1444 H. Organisasi ini terbentuk melalui penyatuan atau penggabungan Kesatuan Mahasiswa Islam (KMI) dan Ikatan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah (IMTI).
Keberadaan organisasi mahasiswa dalam perkumpulan PERTI tidak terlepas dari dinamika panjang sejarah organisasi tersebut di Indonesia. Dalam perjalanan sejarahnya, organisasi mahasiswa PERTI mengalami beberapa fase perkembangan, mulai dari masa embrio pada awal dekade 1960-an, masa transformasi dan kevakuman organisasi, hingga fase kebangkitan kembali pada abad ke-21 yang kemudian melahirkan Kesatuan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah (KMTI).
Latar Belakang
Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) (Jawi: ڤرستوان تربيه اسلاميه; bahasa Arab: اتحاد التربية الإسلامية Ittiḥād at-Tarbiyah al-Islāmīyah) adalah organisasi massa Islam di Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah dengan manhaj teologi Asy'ariyah dan fikih Mazhab Syafi‘i. Organisasi ini didirikan oleh Maulana Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, Maulana Syekh Muhammas Jamil Jaho, Maulana Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh, Maulana Syekh Abdul Wahid Ash-Shalihi, serta sejumlah ulama Kaum Tuo lainnya pada 5 Mei 1928 M atau 15 Zulqaidah 1346 H di Canduang, Agam, Sumatera Barat.
PERTI lahir dari jaringan surau dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) yang berkembang pesat di Minangkabau sejak awal abad ke‑20 dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Dalam perkembangannya, PERTI tidak hanya bergerak di bidang pendidikan dan dakwah, tetapi juga memasuki ranah politik nasional melalui pembentukan Partai Islam PERTI pada masa demokrasi parlementer.
Seiring berkembangnya jaringan pendidikan Tarbiyah Islamiyah, muncul kebutuhan untuk membangun sistem kaderisasi yang lebih terstruktur di berbagai lapisan masyarakat, termasuk di kalangan mahasiswa. Mahasiswa dipandang sebagai kelompok intelektual yang memiliki potensi besar dalam melanjutkan perjuangan pemikiran dan dakwah Tarbiyah Islamiyah.
Pada akhir dekade 1950‑an hingga awal 1960‑an juga mulai bermunculan berbagai organisasi mahasiswa Islam di Indonesia seperti HMI, PMII, dan IMM. Dinamika tersebut mendorong PERTI untuk membentuk wadah mahasiswa sendiri agar kader dan generasi muda Persatuan Tarbiyah Islamiyah di perguruan tinggi memiliki ruang organisasi yang sesuai dengan tradisi keilmuan dan manhaj perjuangan PERTI.
Fase Embrio: Berdirinya GERMAHI (1962)
Upaya pembentukan organisasi sayap mahasiswa PERTI secara resmi diwujudkan dalam Kongres ke-IX Partai Islam Pergerakan Tarbiyah Islamiyah (PI PERTI) yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 13 sampai 20 Januari 1962.
Dalam kongres tersebut diputuskan pembentukan sejumlah organisasi karya Partai Islam PERTI, antara lain:
- Gerakan Buruh Muslimin Indonesia (GERBUMI) di kalangan buruh
- Gerakan Tani Muslimin Indonesia (GERTAMI) di kalangan petani
- Gerakan Mahasiswa Islam Indonesia (GERMAHI) di kalangan mahasiswa
- Ikatan Pelajar Sekolah-Sekolah Perti (IPSP) di kalangan pelajar yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Pelajar Islam Indonesia (GERPII)
Sebagai tindak lanjut keputusan tersebut, maka pada 20 Januari 1962 M bertepatan dengan 13 Sya'ban 1381 H didirikan Gerakan Mahasiswa Islam Indonesia (GERMAHI).
GERMAHI merupakan organisasi mahasiswa yang menjadi underbow Partai Islam PERTI di tingkat mahasiswa dan berfungsi sebagai wadah kaderisasi intelektual mahasiswa Islam PERTI di perguruan tinggi.
Fase Transformasi: Lahirnya Kesatuan Mahasiswa Islam (KMI) (1966)
Perubahan besar dalam politik nasional pada pertengahan dekade 1960-an membawa dampak signifikan bagi berbagai organisasi politik dan kemasyarakatan di Indonesia.
Setelah berakhirnya masa Demokrasi Terpimpin dan munculnya pemerintahan Orde Baru, berbagai organisasi melakukan penyesuaian terhadap situasi politik yang baru.
Dalam konteks tersebut, Muktamar ke-X Partai Islam PERTI yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 27 Agustus sampai 4 September 1966, diputuskan untuk mengembalikan akronim PERTI dari Pergerakan Tarbiyah Islamiyah menjadi Persatuan Tarbiyah Islamiyah serta penyesuaian kembali identitas organisasi-organisasi serumpun PERTI.
Salah satu keputusan penting dari muktamar tersebut adalah transformasi GERMAHI menjadi Kesatuan Mahasiswa Islam (KMI) yang secara resmi ditetapkan pada 3 September 1966. KMI kemudian berfungsi sebagai organisasi serumpun PERTI di tingkat mahasiswa sekaligus wadah kaderisasi intelektual bagi mahasiswa Islam PERTI.
Fase Kevakuman Organisasi
Memasuki awal masa Orde Baru, PERTI mengalami dinamika internal yang cukup kompleks. Terjadi perpecahan di dalam tubuh organisasi yang kemudian melahirkan dua arus organisasi yang berjalan sendiri-sendiri, yaitu PERTI dan TARBIYAH.
Perpecahan ini berdampak pada melemahnya struktur organisasi serta terhentinya aktivitas banyak organisasi serumpun yang sebelumnya berada di bawah naungan PERTI.
Dalam situasi tersebut, organisasi mahasiswa PERTI yaitu Kesatuan Mahasiswa Islam (KMI) mengalami kevakuman aktivitas di tingkat nasional. Jaringan kaderisasi yang sebelumnya dibangun melalui organisasi mahasiswa pun terputus dalam waktu yang cukup lama.
Meskipun demikian, semangat kaderisasi PERTI tidak sepenuhnya berhenti. Di beberapa daerah masih terdapat inisiatif kader untuk menghidupkan kembali organisasi-organisasi serumpun PERTI.
Salah satu upaya tersebut terlihat dengan pembentukan kembali KMI di Aceh Barat Daya pada tahun 2008 sebagai inisiatif para ulama dan kader lokal untuk menghidupkan kembali tradisi organisasi serumpun PERTI.
Fase Kebangkitan: Lahirnya IMTI (2018)
Momentum kebangkitan organisasi mahasiswa Tarbiyah Islamiyah mulai terlihat setelah terjadinya islah antara PERTI dan TARBIYAH pada tahun 2016.
Rekonsiliasi tersebut membuka peluang bagi upaya konsolidasi kembali organisasi serumpun PERTI, termasuk di kalangan mahasiswa.
Dalam konteks ini, sejumlah mahasiswa Tarbiyah Islamiyah yang berada di kawasan Ciputat menggagas pembentukan organisasi mahasiswa baru yang diberi nama Ikatan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah (IMTI).
Organisasi ini secara resmi didirikan di Jakarta pada 3 November 2018 M bertepatan dengan 15 Safar 1440 H.
Pada awal berdirinya, IMTI merupakan organisasi mahasiswa yang bersifat independen, namun secara ideologis memiliki keterkaitan erat dengan manhaj Tarbiyah Islamiyah.
IMTI kemudian berkembang sebagai wadah berhimpunnya mahasiswa Tarbiyah Islamiyah yang tersebar di berbagai perguruan tinggi, khususnya di wilayah Jabodetabek dan Sumatera Barat.
Deklarasi Penyatuan IMTI dan KMI (2021)
Upaya penyatuan organisasi mahasiswa Persatuan Tarbiyah Islamiyah mencapai momentum penting pada Rapat Kerja Nasional Tarbiyah-Perti yang diselenggarakan di Jakarta pada 20 Juni 2021.
Dalam Rakernas tersebut lahir Deklarasi Penyatuan Ikatan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah (IMTI) dan Kesatuan Mahasiswa Islam (KMI) sebagai organisasi serumpun Tarbiyah-Perti di tingkat mahasiswa.
Deklarasi ini diinisiasi oleh Dr. Mafri Amir, Wakil Sekretaris Jenderal PP Tarbiyah-Perti.
Dokumen deklarasi tersebut ditandatangani oleh:
- Tarmizi, Ketua Umum IMTI Jabodetabek
- Teuku Kasman, Koordinator Wilayah KMI Aceh yang mewakili Ketua PP KMI Nasgian Djunaedi Nasution
Deklarasi ini menjadi tonggak penting dalam upaya mengintegrasikan kembali gerakan mahasiswa Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang sebelumnya terfragmentasi.
Pembentukan Tim Sembilan (2022)
Sebagai tindak lanjut dari deklarasi penyatuan tersebut, PP Tarbiyah-Perti pada 22 Maret 2022 membentuk caretaker Pimpinan Pusat Organisasi Mahasiswa Persatuan Tarbiyah Islamiyah.
Tim caretaker ini kemudian dikenal dengan sebutan Tim Sembilan.
Tim ini bertugas untuk mempersiapkan penyatuan organisasi mahasiswa Persatuan Tarbiyah Islamiyah serta menyelenggarakan muktamar penyatuan.
Tim Sembilan terdiri dari:
- Muhammad Hidayatullah (Ketua)
- Arif Rahmat Triasa (Sekretaris)
- Teuku Kasman
- Tarmizi
- Rozal Nawafil
- Habiburrahman
- Firdaus
- Ahmad Nubli
- Riki Yuniagara
Selain itu, Dr. Aldomi Putra dari unsur PP Tarbiyah-Perti ditunjuk sebagai penasihat.
Tim Sembilan inilah yang kemudian dipandang sebagai pendiri Kesatuan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah (KMTI).
Muktamar Penyatuan dan Lahirnya KMTI (2022)
Setelah melalui proses konsolidasi organisasi di berbagai daerah, Tim Sembilan berhasil menyelenggarakan Muktamar Penyatuan IMTI dan KMI dalam rangkaian Muktamar Bersama Tarbiyah-Perti dan Organisasi Serumpun tahun 2022.
Muktamar tersebut dilaksanakan pada 23–25 Oktober 2022 di Hotel Mercure Ancol, Jakarta dan dihadiri sekitar 30 perwakilan pengurus KMI dan IMTI dari berbagai provinsi di Indonesia.
Muktamar ini dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Prof. Dr. (H.C.) KH. Ma'ruf Amin.
Forum tersebut menghasilkan sejumlah keputusan penting, antara lain:
- pengembalian akronim Tarbiyah-Perti menjadi PERTI
-pengembalian akronim Perwati-Wanita Perti menjadi PERWATI (Persatuan Wanita Tarbiyah Islamiyah)
- penyatuan dan penegasan nama organisasi-organisasi serumpun dengan menggunakan unsur nama PERTI
- pembentukan pengurus PP PERTI, PP PERWATI, PB PEMUDA PERTI dan PB KMTI, serta sejumlah rekomendasi strategis lainnya.
Secara khusus dalam forum mahasiswa, muktamar menetapkan:
- nama organisasi Kesatuan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah (KMTI)
- Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART)
- Garis-Garis Besar Haluan Perjuangan Kader (GBHPK)
Pemilihan Ketua Umum PB KMTI
Dalam muktamar tersebut juga dilaksanakan pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar KMTI periode 2023–2026.
Awalnya terdapat empat bakal calon yang mengemuka, yaitu:
- Muhammad Hidayatullah
- Rozal Nawafil
- Habiburrahman
- Situngganai
Setelah melalui dinamika forum, dua bakal calon menyatakan mengundurkan diri sehingga mengerucut menjadi dua calon:
- Muhammad Hidayatullah
- Habiburrahman
Melalui proses musyawarah dan konsensus forum, akhirnya disepakati Muhammad Hidayatullah sebagai Ketua Umum PB KMTI periode 2023–2026 sekaligus formatur.
Ia selanjutnya didampingi oleh empat mide formatur, yaitu:
- Habiburrahman
- Teuku Kasman
- Arif Rahmat Triasa
- Nurlisa Bani
Pelantikan Pengurus Besar KMTI
Sebagai tindak lanjut hasil muktamar, dilakukan pelantikan Pengurus Besar Kesatuan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah (PB KMTI) periode 2023–2026 pada 20 Maret 2023 di Puri Agung Grand Sahid Jakarta.
Pelantikan ini menandai dimulainya fase baru gerakan mahasiswa Persatuan Tarbiyah Islamiyah dalam wadah organisasi nasional yang lebih terstruktur dan sistematis.
Penutup
Kesatuan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah (KMTI) merupakan kelanjutan historis dari organisasi mahasiswa Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang telah dirintis sejak berdirinya GERMAHI (1962), dilanjutkan oleh Kesatuan Mahasiswa Islam (KMI) (1966), dan kemudian diperkuat oleh kehadiran Ikatan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah (IMTI) (2018).
Melalui proses sejarah yang panjang—meliputi fase pembentukan, transformasi, kevakuman, hingga kebangkitan kembali—KMTI hadir sebagai wadah resmi kaderisasi mahasiswa dalam lingkungan Persatuan Tarbiyah Islamiyah.
Ke depan, KMTI diharapkan mampu memperkuat tradisi keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jamaah asy-Syafi'iyah, melahirkan kader intelektual yang berintegritas, serta berkontribusi bagi pembangunan umat, bangsa, dan negara.
Daftar Pendiri Kesatuan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah (KMTI)
Berikut adalah daftar tokoh yang merupakan pendiri organisatoris Kesatuan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah (KMTI).
Inisiator Penyatuan KMI & IMTI
Penasihat Tim Sembilan
Tim Sembilan Pendiri KMTI
Galeri
0 Komentar