Oleh : Muhammad Hidayatullah
Ormas Islam Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang telah melalui perjalanan panjang dan penuh lika-liku itu kini berumur 93 tahun. Ya, usia yang sudah tidak muda lagi bagi sebuah ormas Islam terbesar ketiga di Indonesia setelah NU dan Muhammadiyah tentunya. Sudah masyhur diketahui bahwa Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang didirikan pada 5 Mei 1928 di Sumatera Barat oleh para ulama besar Minangkabau itu telah memberikan sumbangsih nyata bagi agama, nusa dan bangsa Indonesia. Ia tumbuh di Minangkabau lalu menyebar ke seluruh pelosok Nusantara dengan berfokus pada aspek pendidikan, dakwah dan sosial masyarakat. Meski pernah berubah menjadi salah satu partai politik terbesar di zamannya, lalu berpecah dan akhirnya bersatu kembali (ishlah) di zaman ini di bawah satu payung organisasi, tentu hal itu sesuatu yang wajar-wajar saja terjadi. Bukankah setiap peradaban memiliki kisahnya tersendiri?
Hari ini, di bulan Ramdhan nan suci, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Tarbiyah-PERTI) merayakan tasyakuran miladnya yang ke-93 di Kota Jakarta sekaligus sebagai momentum evaluasi terkait sudah sejauh mana perkembangan penerapan program dan kebangkitan yang dicita-citakan. Lagi-lagi yang harus dipahami adalah bahwa segala sesuatunya butuh proses. Tidak bisa instan. Menurut kami, Tarbiyah-Perti dengan segala kekurangannya hari ini terus berupaya berbenah diri dalam melanjutkan perjuangan yang telah digagas oleh para pendahulu. Selain itu juga ada informasi bahwa setelah milad ini akan diadakan rakernas II dan musyawarah nasional dengan mengikutsertakan berbagai pihak dan seluruh pengurus di Indonesia.
Terakhir, pada kesempatan milad ini pula, saya sebagai pihak yang diundang melontarkan beberapa pertanyaan sekaligus mengemukakan beberapa masukan kepada Pengurus Pusat dengan harapan dapat menjadi bahan pembicaraan saat rakernas dan munas nanti.
Diantaranya adalah: soal kembali ke MTI (baca: pesantren) dan manajemen kepesantrenan; optimalisasi pengaderan dari jenjang paling tinggi hingga tingkat paling bawah; membangun dan mengoptimalkan lembaga fatwa secara khusus dan jelas semisal bahsul masail di kalangan NU dan majelis tarjih di kalangan Muhammadiyah sebagai upaya merespon segala hal yg bersifat baru dan kekinian; mendirikan lembaga khusus wakaf, zakat, infaq dan sadaqah sebagai langkah ikhtiar di bidang ekonomi umat; terakhir adalah digitalisasi dan upaya penjagaan, perawatan, serta penelitian terhadap seluruh karya-karya ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah (semisal dengan upaya membangun museum kitab, dan sebagainya). Wallahu a'lam
Teruntuk seluruh tokoh pendiri dan ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah, lahum Al-Fatihah....
Bangkitlah....Jayalah...
Jakarta, 5 Mei 2021


0 Komentar